BREAKING NEWS

10/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Teori Kreativitas SENI


Setiap manusia punya rasa dalam berkegiatan setiap hari dan punya kreatifitas yang tidak mungkin sama dengan lainnya.

Bisa dilihat dari berbagai sudut sesuai dengan

Teori Kreativitas Seni





Menurut Werner Reinartz dan Peter Saffert, merupakan pemikiran yang berbeda berbentuk kemampuan menemukan solusi yang tidak biasa terhadap suatu problem.

Menurut Creative Education Foundation, pengertian kreatif adalah suatu kemampuan yang dimiliki seseorang (atau sekelompok orang) yang memungkinkan mereka menemukan pendekatan-pendekatan atau terobosan baru dalam menghadapi situasi atau masalah tertentu yang biasanya tercermin dalam pemecahan masalah dengan cara yang baru atau unik yang berbeda dan lebih baik dari sebelumnya.

Pada umumnya, manusia berpikir bahwa kreatif merupakan mitos dengan berbagai pernyataan yang membelenggu potensi kreativitas yang hadir di sekelilingnya atau hanya ada pada dirinya sendiri.


 Beragam mitos kreatif pada kehidupan sehari-hari yaitu: Saya tidak berbakat untuk kreatif (semua orang kreatif! Untuk menjadi kreatif, Anda harus berpikir bahwa Anda kreatif).

Kalau saya bisa melakukan satu hal, itu tidak berarti kreatif (banyak hal yang "biasa" Anda lakukan belum tentu bisa dilakukan orang lain). Hanya satu hal tipe kreativitas (menjadi kreatif bukan sebatas ahli dalam melukis atau menciptakan lagu).

Biarkan orang-orang kreatif yang melakukan hal kreatif (semua orang bertanggung jawab untuk mengontribusikan ide mereka). Kreativitas tidak bisa dipelajari (kreativitas selalu muncul di seputar kita).

Orang-orang kreatif selalu tampil "aneh" (kreativitas yang disuarakan memunculkan sesuatu yang baru, sehingga tampak " beda" dari apa yang berlaku).

Orang-orang kreatif itu spontan tidak terstruktur. Saya terlalu tua untuk kreatif (Banyak orang berpikir telah memikirkan segalanya pada saat muda, tetapi saya baru memikirkan tentang teori ruang angkasa pada saat saya sudah dewasa -Albert Einstein-.

Hasil riset menyatakan bahwa otak manusia bersifat "neuroplastik". Artinya, susunan otak dapat berubah menyesuaikan kebutuhan).

Kreativitas berarti menemukan hal baru yang mengubah sesuatu secara signifikan (Kita terus beradaptasi dengan lingkungan lewat perubahan-perubahan kecil serta mengoptimalkan kegiatan sehari-hari kita secara kreatif).

Proses lahir suatu ide inovatif atau inspiratif memerlukan beragam bentuk tahapan. Hal itu tergantung pada individu masing-masing. Inovasi adalah memikirkan dan melakukan sesuatu yang baru yang menambah atau menciptakan nilai-nilai manfaat sosial/ ekonomi (Gde Raka, 2001).

Berdasarkan sejarah psikologi kognitif menurut Wallas, dikenal dengan Teori Wallas, salah satu teori yang sampai sekarang banyak dikutip, yang dikemukakan tahun 1926 dalam bukunya The Art of Thought (Piirto, 1992).

 Secara umum kreativitas muncul dalam proses empat tahap yang secara berkelanjutan mengalir perlahan-lahan dari diri manusia. Adapun tahapan tersebut sebagai berikut:

1. Tahap Persiapan (Preparotion) Pada tahap persiapan, otak mengumpulkan informasi dan data yang berfungsi sebagai dasar atau riset untuk karya kreatif yang sedang terjadi.

Tahap persiapan ini merupakan suatu tahap berorientasi tugas ketika seseorang melakukan riset khusus dengan membaca, mewawancarai orang, bertualang, atau kegiatan lain yang berfungsi mengumpulkan fakta, ide, dan opini.

 Pada tahap ini, seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berpikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang lain, dan lain sebagainya.

2. Tahap Inkubasi (Incubation)

Masa inkubasi dikenal luas sebagai tahap istirahat, masa menyimpan informasi yang sudah dikumpulkan, lalu berhenti, dan tidak lagi memusatkan diri atau merenungkannya.

 Fungsi utama pikiran bawah sadar selama tahap ini adalah mengaitkan berbagai ide. Kreativitas merupakan hasil kemampuan pikiran dalam mengaitkan berbagai gagasan untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan unik.

3. Tahap Pencerahan (lluminotion)

Tahap pencerahan dikenal sebagai pengalaman, yaitu saat inspirasi ketika sebuah gagasan baru muncul dalam pikiran, seakan-akan dari ketiadaan, untuk menjawab tantangan kreatif yang sedang dihadapi.

Tahap pencerahan ini sering terjadi saat seseorang mengerjakan sesuatu yang tidak berkaitan dengan upaya kreatif, seperti ketika sedang mandi, mengemudi, rileks.

Tahap pencerahan merupakan titik tolak ketika gagasan baru berpindah dari alam pikiran tidak sadar ke alam pikiran sadar. Hal ini paling mudah dicapai dalam keadaan santai dan bebas tekanan.

4. Tahap Pelaksanaan/Pembuktian (Verification)

Disebut sebagai tahap pelaksanaan/pembuktian karena di sinilah titik tolak seseorang memberi bentuk pada ide atau gagasan baru, untuk meyakinkan bahwa gagasan tersebut bisa diterapkan.

Di sinilah kemampuan dan keterampilan berpikir harus memainkan peran, demikian juga hasrat dan rasa gembira.

Dalam tahap pelaksanaan/pembuktian, ada gagasan berhasil dengan amat cepat, sedang yang lain perlu waktu berbulan-bulan atau bahkan tahunan.

Jadi pada dasarnya kreativitas adalah pengelolaan suatu ide, menghubungkan beberapa elemen ide-ide yang terpisah, selanjutnya ide atau gagasan tersebut dikembangkan dan diolah menjadi suatu karya yang menarik, unik, dan inovatif.

Kondisi Fisik dan Mood

Kondisi fisik manusia sangat memengaruhi pola pikir pada tubuhnya secara keseluruhan, walaupun tidak sepenuhnya setiap manusia mengerti tentang pengaruh mendasar yang mereka miliki.

Intensitas dari berbagai kondisi fisik serta pola pikir dan tubuh masing-masing pada gilirannya akan memengaruhi tingkatan di mana manusia bisa mengatasi momen tantangan dalam proses kreatif.

Berbagai momen tantangan kreatif ini melibatkan keseimbangan antara ketegangan dan energi yang mungkin mendorong setiap individu untuk tetap terlibat atau memaksanya untuk menarik diri.

Psikolog Robert Thayer telah mempelajari bentuk keseimbangan ini dan bagaimana dampaknya pada mood.2 Thayer membuat konsep mood sebagai empat pola reaksi berbeda dan menyeluruh berdasarkan kondisi yang ia sebut dengan:

1. Colm-energy

Dalam kondisi colm-energy, manusia merasa senang. Perasaannya menganggap dirinya waspada, mungkin ingin bergaul, dan percaya diri.

Secara fisik, individu mungkin memiliki detak jantung dan metabolisme yang relatif tinggi sehubungan dengan apa yang mereka alami selama aktivitas normal setiap hari.

Hal yang paling signifikan adalah setiap manusia harus siap menerima tantangan yang ada pada saat itu.

2. Calm-tiredness

Dalam kondisi calm-tiredness, sistem kardiovaskular seseorang mungkin berfungsi di tingkat yang lebih rendah.

Pikirannya mungkin cenderung berfokus pada hal-hal yang membutuhkan konsentrasi lebih kecil, seperti membaca novel atau majalah atau mendengarkan musik.

Walaupun mereka mungkin masih merasakan mood yang baik, reaksi sebenarnya lebih lelah atau mengantuk.

3. Tense-energy

Ketika berada pada posisi tense-energy manusia mungkin akan mengalami peningkatan ketegangan otot, pernapasan, dan seluruh tubuh. Dirasakan pula energi emosional dalam bentuk kegugupan atau rasa was-was.

Thayer menyataan kalau mood ini mencerminkan aktivasi fisiologi yang merupakan tanggapan tubuh terhadap perasaan ketika terancam. Walaupun mood tense-energy memberi energi pada manusia dan meningkatkan kewaspadaan, rasa was-was yang muncul cenderung mengalihkan perhatian dan upaya seseorang untuk terus berfokus pada berbagai jenis sifat tantangan pengejaran kreatif.

4. Tense-tiredness

Pada kondisi mood ini, melibatkan ketegangan fisik dalam berbagai sistem tubuh manusia dan dibarengi oleh kurangnya energi secara subjektif. Hal ini dialami sebagai mood yang buruk.

Mood ini berbentuk rasa lelah dan juga rasa was-was. Ketika kondisi pikiran seseorang dipenuhi oleh berbagai tuntutan sulit, mood melibatkan adanya rasa kekosongan yang besar.

Hal ini cenderung membuat penilaian negatif terhadap kemampuan diri, membesar-besarkan kesulitan yang ditimbulkan oleh tantangan tersebut, dan merasakan kompetensi yang berkurang.

Kondisi-kondisi ideal untuk perhatian manusia terfokus adalah ketika mood mengalami calm energy atau sedikit tingkatan tense energy.

Kedua kondisi di atas paling kondusif bagi berbagai aspek kreativitas yang membutuhkan perhatian terfokus dan terkonsentrasi.

Sikap waspada, terbuka, dan rasa percaya yang dimiliki oleh kondisi pikiran dan tubuh yang mengalami reaksi calm energy memupuk emosi positif dan pemikiran terbuka serta fleksibel yang penting bagi keterlibatan kreatif.

Bacalah Juga

Post a Comment

0 Comments