Hepatitis pada Anak penularannya Misterius

Saat ini Kementerian Kesehatan telah menerbitkan surat edaran untuk semua rumah sakit dan dinas kesehatan dan rumah sakit di daerah .

Untuk meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan, menyusul kian bertambahnya kasus suspek hepatitis akut di berbagai daerah di Indonesia khususnya pada Anak.




 

Hepatitis pada Anak 

Memang harus tetap diwaspada bahkan harus dicegah lebih dini. 
Namun, para pakar epidemiologi mempertanyakan rencana aksi pemerintah Indonesia untuk memitigasi risiko penyakit misterius.
Uang kendati belum tentu menjadi pandemi baru, namun dikhawatirkan memicu krisis kesehatan baru jika tidak ditanggapi dengan serius.

Bayangkan, ada 30 juta anak Indonesia yang belum eligible (memenuhi syarat) untuk mendapatkan vaksinasi. 
Misalnya 10% saja dari itu terjadi kerusakan hepar yang semi-permanen saja, itu akan mengurangi kualitas SDM manusia Indonesia ke depan.




Kasus suspek hepatitis akut bertambah jadi 15 di Indonesia, benarkah disebabkan vaksin Covid-19?
 
Hepatitis akut, mengapa disebut 'penyakit misterius' dan berbeda dengan tipe-tipe yang sudah ada? 'Demam misterius' di India membunuh puluhan anak dalam seminggu

Adanya kematian itu adalah indikator telat kita mendeteksi, telat kita merespons dalam melakukan treatment perawatan. 
Artinya, itu harus dicegah dengan menguatkan surveillance dan deteksi dininya

Sementara itu, Mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, Pemerintah perlu melakukan "penyelidikan epidemiologis mendalam untuk mendeteksi pola penularan".

Hingga kini, 15 kasus hepatitis akut terjadi di Indonesia di lima provinsi, yakni;
  • DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Barat dan Bangka Belitung. 
  • Umumnya pada  usia antara 0 -16 tahun.

Sebanyak lima anak dinyatakan meninggal, diduga karena terjangkit misterius itu, sementara sisanya dalam perawatan.

Gejala lebih berat dan bersifat akut


Seorang bayi berusia dua bulan di Solok, Sumatra Barat, meninggal dunia diduga karena hepatitis misterius, setelah sebelumnya sempat dirawat di Puskesmas selama beberapa hari.

Kondisi yang semakin parah, membuatnya harus dilarikan ke Rumah Sakit Hermina, Padang.

Bayi itu meninggal pada 2 Mei 2022 silam. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Sumatra Barat menjelaskan bahwa kondisi bayi itu memburuk dengan sangat cepat.

demam beberapa hari, tiga hari kalau tidak salah, kemudian muntah dan diare. Lalu hari keempat [sakit] kuning, dan langsung berat, kejang dan tekanan darahnya menurun. 
Jadi sampai di Rumah Sakit Hermina itu kondisinya sudah berat dan itu cepat sekali perjalanannya,

Kepala Dinas Sumatra Baratmembenarkan bahwa gejala yang dialami oleh bayi tersebut, serupa dengan gejala yang dialami anak-anak yang terjangkit hepatitis, "tapi cenderung lebih berat dan bersifat akut".

Akut itu sifatnya mendadak, berat, dan biasanya menyerang anak umur 0-16 tahun."

Namun, penyakit itu dikategorikan sebagai hepatitis of unknown (tidak diketahui) karena setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata tidak cocok dengan hepatitis A, B, C dan E yang sudah ada selama ini.

Jadi mungkin digaris bawahi bahwa kasus tersebut kita tidak sampaikan sebagai kasus positif tapi gejalanya mirip

menambahkan diperlukan pemeriksaan laborotorium untuk mendapatkan diagnosa pasti.

Pemeriksaan untuk diagnosa pasti, kata Lila, hanya dapat dilakukan di laboratorium milik FKUI (Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia) dan Rumah Sakit Sulianti Saroso yang keduanya berlokasi di Jakarta. 

 Baca juga:

Selain di Solok, bocah berusia tujuh tahun di Tulungagung, Jawa Timur juga meninggal dunia dengan gejala identik hepatitis misterius yang belum diketahui penyebabnya tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung, Kasil Rohkmat menyatakan konfirmasi positif ini sesuai dengan kriteria Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia.

Kriteria itu antara lain gejala penyakit kuning, berusia di bawah 10 tahun dan tidak ada penyebab lain. Gejala yang muncul adalah demam, diare, urine berwarna lebih pekat dan feses berwarna pucat.

Kematian dua anak di Sumatra Barat dan Jawa Timur ini menambah daftar anak-anak yang meninggal dunia diduga karena penyakit misterius itu.

ika anak-anak yang meninggal ini terkonfirmasi sebagai kasus hepatitis misterius, itu menunjukkan bahwa kasus hepatitis akut misterius di Indonesia sebenarnya itu lebih besar.

Ini artinya ada angka yang bisa berkali-kali lipat lebih besar di komunitas yang tidak terdeteksi.

Menurutnya, angka kematian tidak bisa diabaikan karena meskipun kematian akibat penyakit hepatitis akut ini satu persen dari total jumlah kasus di level global, ada 10 persen dari kelompok ini yang memerlukan transplantasi hati.

Yang kalau tidak segera dideteksi dan segera mendapat layanan yang memadai, kematian itu bisa lebih tinggi, bukan hanya satu persen.

Hal ini tetap harus tetap tertangani, menghindari pristiwa fatal terjadi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan setidaknya 15 anak Indonesia terjangkit hepatitis akut misterius, satu pekan setelah tiga kasus pertama terjadi di Indonesia pada 27 April lalu.

Hingga kini, WHO mencatat sekitar 230 kasus hepatitis akut misterius di 20 negara di dunia. 
  • Kasus terbanyak terjadi di Inggris dengan 115 kasus.
  • Setidaknya 16 anak, atau 10% dari total kasus global, harus menjalani transplantasi hati.

Untuk tetap menjaga kebersihan dan tetaplah mengkonsumsi vitamin sesuai anjuran dokter dan tetap cukup istirahat.

Olah tubuh dan pikiran postif itu penangkal utama terhadap penyakit yang terkadang dianggap remeh namun mematikan.
   

Mitigasi risiko

Merespons kasus hepatitis akut misterius yang terjadi di seluruh dunia, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan telah mengeluarkan surat edaran agar semua rumah sakit dan dinas kesehatan melakukan surveillance (pengawasan) ketika kasus pertama diumumkan pada akhir April lalu.

Menurut berbagai pakar bahwa pengawasan saja tidak cukup namun harus juga pendeteksian lebih dini 

Karena begini, walaupun pendeteksian itu ada, tapi karena hepatitis ini epidemi, bahkan silent (diam-diam) lagi. 
Jadi ketika surveillance ditingkatkan, menemukan kasus hepatitis itu akan banyak sekali.

Tapi yang jadi permasalahan berikutnya adalah bagaimana memilah dan memilih mana yang memang termasuk difinisi  hepatitis akut yang belum jelas etiologinya ini


Sayangnya, tidak semua daerah di Indonesia memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu.

Selain itu, tak semua daerah memiliki kemampuan melakukan tes untuk lima jenis strain hepatitis.

Di tengah keterbatasan itu, pemerintah harus melakukan satu langkah terobosan

  • Artinya memperkuat sistem layanan kesehatan, setidaknya di level provinsi ada satgas (satuan tugas) di dinas kesehatan yang bisa membantu daerah-daerah untuk bisa mendeteksi ini dengan segala keterbatasan itu.

Ciptakan SDM Handal dengan tetap berobserpasi


Ia pula menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak bisa menganggap remeh penyakit misterius ini, sebab jika tidak direspons dengan serius maka akan memicu tidak hanya krisis kesehatan yang lebih besar, tapi juga krisis sumber Daya manusia (SDM).

Bayangkan, ada 30 juta anak Indonesia yang belum eligible (memenuhi syarat) untuk mendapatkan vaksinasi. Misalnya 10 % saja dari itu terjadi kerusakan hepar (hati) yang semi-permanen saja, itu akan mengurangi kualitas SDM manusia Indonesia ke depan

Apa langkah pemerintah Indonesia?

Mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan pemerintah perlu melakukan "penyelidikan epidemiologis mendalam untuk mendeteksi pola penularan".

Adapun Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan saat ini pihaknya telah melakukan lima penyelidikan epidemiologis, namun hingga kini belum menemukan pola penyebaran penyakit tersebut.

  • Ia menambahkan, status kasus-kasus yang terjadi di Indonesia sampai saat ini masih suspek dan belum bisa dikategorikan secara pasti sebagai hepatitis akut, namun baru dikategorikan sebagai pending classification.
  • Sebab, pemeriksaan laboratorium harus dilakukan, terutama pemeriksaan adenovirus dan pemeriksaan hepatitis E yang membutuhkan waktu antara 10-14 hari ke depan.

Selain surat kewaspadaan yang dikirimkan pada dinas kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menegaskan bahwa semua kasus yang terkait dengan adanya sindrom kuning itu belum dikategorikan sebagai diagnosa pasti.

Karena ada pemeriksaan yang harus dilakukan dengan genom sequencing untuk mengetahui secara pasti bahwa penyakit itu bukan hepatitis A dan E.

Ciptakan penunjang kesehatan terkoordinasi 

Selama ini wabah baru dianti sipasi setelah merebak namun dari  itu, pemerintah juga melakukan penguatan fasilitas kesehatan dengan adanya rujukan rumah sakit untuk penangangan hepatitis akut yang berat, seperti Rumah Sakit Sulianti Saroso di Jakarta, termasuk pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosa pasti terkait penyebab hepatitis berat ini.

  • Di Sumatra Barat, Rumah Sakit Djamil di Padang ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan hepatitis akut menyusul ditemukannya kasus suspek hepatitis akut yang meninggal dunia beberapa hari sebelumnya.

  • Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUP M Djamil Padang, Bestari Jaka Budiman mengatakan pihaknya sudah menyiapkan ruangan ICU (Intensive Car Unit), NICU (Neonatal Intensive Care Unit) dan ruang perawatan.

Pandemi atau hanya sesaat 

Akankan jadi pandemi baru? Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Profesor Tjandra Yoga Aditama menganggap "terlalu dini" untuk menganggap hepatitis akut misterius ini sebagai pandemi baru. 

Diamati saat ini secara global, kasus pertama hepatitis akut ini terjadi pada 5 April lalu. Namun diperkirakan, kasus yang sebenarnya telah terjadi sebelumnya. 

 Kendati WHO mengkategorikan penyakit baru ini sebagai outbreak atau wabah, namun menurut Tjandra bukan berarti penyakit itu akan berkembang menjadi pandemi. 

Rangkuman bahwa;


Apalagi kalau kita lihat dari tahun 2020 sampai sekarang, mungkin sudah ada 200 penyakit yang sudah outbreak tapi yang jadi pandemi hanya Covid-19, yang lain tidak," tegas Tjandra. Merujuk pada pandemia Covid-19, Tjandra menjelaskan bahwa kasus Covid-19 pertama kali diinformasikan pertama kali pada 31 Desember 2019. 

 Pada 5 Januari, WHO melaporkan pada publik tentang penyakit baru tersebut dan kasusnya terus meningkat setelah itu. Covid-19 baru diumumkan sebagai pandemi pada 11 Maret 2020, atau tiga bulan setelah kasus pertama dilaporkan. 

Jadi masih panjang perjalanan untuk melihat kasus ini dan saya kira terlalu dini kalau kita mengatakan bahwa ini akan menjadi pandemi," cetus Tjandra. 

Sementara itu, epidemiolog Dicky Budiman mengungkapkan bahwa penyakit hepatitis akut ini memiliki potensi untuk menjadi epidemi atau wabah yang terjadi pada suatu kawasan, tapi menurutnya, "tidak mungkin" menjadi pandemi baru.
 

Sehingga, penyakit itu tidak pandang bulu menyerang semua populasi, dan usia.

Berbeda dengan hepatitis ini, kita melihat ini lebih rawan timbul pada anak. Kita memiliki hipotesa bahwa ada faktor yang membuat orang dewasa tidak terpapar. Itu berarti potensi ke arah pandemii itu mengecil
Diperkirakan penyakit hepatitis berat yang belum diketahui penyebabnya ini berkaitan dengan imunitas anak terhadap virus Covi-19, kendati ini harus dibuktikan secara ilmiah. Karena yang terpapar ini adalah umumnya anak dibawah lima tahun yang belum divaksin Ubah perilaku.

Lebih sehat dan displin Lebih lanjut, bahwa gejala penyakit hepatitis misterius itu hampir sama dengan gejala penyakit hepatitis yang sudah ada. 

Upaya pencegahannya pun tak jauh będą, yakni kebersihan dan kesehatan perorangan (personal hygiene).

Personal hygiene itu bukan hanya cuci tangan saja, tapi juga ketika BAB karena hepatitis ini fecaloral

Fecal oral adalah penularan melalui mulut dari benda, makanan, atau makanan yang terkontaminasi kotoran orang yang terinfeksi virus hepatitis.

Salah satu yang paling kunci, kata Dicky, adalah meningkatkan protokol kesehatan.

Tak hanya dalam respons covid, protokol kesehatan yang ketat juga penting untuk banyak penyakit, seperti hepatitis dan influenza.

Itu yang bisa dan harus dilakukan di tiap-tiap rumah tangga, karena bicara personal hygiene ini juga bicara family hygiene dan community hygiene

Apalagi, dalam waktu dekat anak-anak sudah harus kembali ke sekolah. Jadi, selain melakukan protokol kesehatan yang ketat, kebersihan dan kesehatan perorangan juga harus dijaga.

Inlahi bukti bahwa kita harus berubah perilakunya, lebih sehat dan lebih disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan bukan hanya pada keluarga tapi juga pada lingkungan sekitar Anda tetap dijaga .




Bacalah Juga

Komentar