• Jelajahi

    Copyright © Bacalah Biz
    Best Viral Premium Blogger Templates

    .

    Reviews

    BACALAH

    Terkini

    LIFESTYLE

    +

    Meminta memahami tapi EGO yang hadir

    Admin
    Rabu, Juli 8, Juli 08, 2026 WIB Last Updated 2026-08-06T06:07:03Z
    masukkan script iklan disini

    #Bacalah, Meminta memahami tapi EGO yang hadir
    Dalam hal ini mengindikasikan informasi yang disampaikan secara akurat

    masukkan script iklan disini 2

    Hal seperti ini kini akan sering terjadi. Bukan hanya di media sosial, melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari.

    Di rumah, di ruang kelas, di tempat kerja, bahkan di antara orang-orang yang seharusnya paling dekat. 

    Kita bertemu, berbincang, tertawa, tetapi entah mengapa, saling memahami terasa semakin sulit. 

     


    Watak menguasai 

    Kita hidup di masa yang serba cepat. Segalanya menuntut respons instan. 

    Pesan harus segera dibalas, 

    pendapat harus segera diutarakan, 

    emosi harus segera diluapkan. 

     

    Meminta  orang lain memahami tapi Ego yang hadir 

    Dalam kesempatan dan kecepatan itu, mendengar dengan sungguh-sungguh menjadi hal yang kerap terlewat. 

    Kita tidak benar-benar hadir, hanya sekadar ada?

    Di media sosial, situasinya tidak jauh berbeda. 

    Kita melihat potongan cerita orang lain, lalu merasa cukup tahu untuk menilai. 

    Satu unggahan dianggap mewakili seluruh hidup. 

    Satu kesalahan diperbesar, satu emosi dianggap berlebihan. 

    Kita lupa bahwa apa yang tampak di layar hanyalah sebagian kecil dari kenyataan seseorang. 

    Tanpa disadari, kita juga membawa luka dan lelah masing-masing. 

    Banyak orang berbicara dengan nada defensif, bukan karena ingin menyerang, melainkan karena takut disalahpahami. 

    Banyak orang memilih diam bukan karena tidak peduli, melainkan karena lelah menjelaskan. 

    Dalam kondisi seperti ini, saling memahami menjadi semakin rumit.

    Ada kalanya kita ingin dimengerti, tetapi tidak cukup sabar untuk memahami orang lain. 

    Kita ingin didengar, tetapi enggan mendengar. 

    Kita ingin diterima apa adanya, tetapi cepat mengoreksi ketika orang lain berbeda. 

    Di situlah ironi itu muncul kita menuntut empati yang sama yang sering kali lupa kita berikan. 

    Kita ini baru dilingkungan itu, tapi ingin dianggap lebih hebat 

     

    Seperti kondisi kita di umbar seolah-olah kita terdzolimi 

    tapi justru ;

    • Membuat peraturan yang tentu paham kita tinggal dilingkungan perumahan atau apartemen yang sudah baku lingkungan itu untuk istirahat penatnya  aktivitas.
    • Silahkan buka usaha sesuai peruntukannya. tak ada yang melarang 

    Padahal, memahami tidak selalu berarti sepakat. 

    Memahami hanyalah kesediaan untuk memberi ruang. 

    Ruang untuk orang lain bercerita tanpa langsung dipotong. 

    Ruang untuk perbedaan tanpa buru-buru menghakimi (apalagi tak melihat)

    • (bagi seorang muslim dipertanyakan syahadatnya , sudah benar?) 

    Ruang untuk diam tanpa dipaksa menjelaskan segalanya.

    Mungkin yang membuat kita semakin sulit saling memahami bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena kita terlalu lelah dan terlalu terburu-buru bahkan cenderung ego.

    Kita jarang berhenti sejenak untuk benar-benar melihat satu sama lain sebagai manusia, bukan sebagai opini, posisi, atau masalah.

    Jika ada satu hal sederhana yang bisa kita mulai, mungkin itu adalah mendengar tanpa niat membalas. 

    Bertanya tanpa keinginan mengoreksi. 

    Hadir tanpa harus selalu benar. Hal-hal kecil ini sering kali terlupakan.

    Saling memahami memang tidak instan. 

    Ia pelan, kadang melelahkan, dan tidak selalu nyaman. 

    Namun, justru di sanalah hubungan menjadi lebih hangat dan manusiawi jika tak ego dengan pencapaian tapi spiritual yang hadir.

    Di tengah dunia yang semakin bising, mungkin memahami adalah bentuk kepedulian paling sunyi dan paling dibutuhkan.

    Jangan biarkan ego menghancurkan segalanya

    Kita seakan memaksa orang lain memahami posisi kita, kesehatan kita, bahkan kedudukan kita. 

    Ini tipe orang ego yang ada disekeliling kita.

    1. Cenderung menyalahkan orang lain 

    Ketika menemukan permasalahan dalam pekerjaan tim, seseorang yang egois cenderung menyalahkan orang lain alih-alih fokus untuk menyelesaikan persoalan. 

    Dengan menyalahkan orang lain, mereka berpikir tidak perlu menyediakan waktu dan tenaga lebih untuk mengatasi permasalahan tersebut. 

     

    2. Kurang empati walau terlihat gigih untuk mencapai tujuan tentu merupakan hal yang baik. 

    Namun, jangan sampai hal tersebut membuat Anda menghalalkan segala cara, bahkan dengan merugikan orang lain. 

     Egoisme yang berlebihan memang cenderung membuat seseorang kurang bisa berempati. 

    Pasalnya, mereka hanya fokus pada diri sendiri tanpa mau memikirkan orang lain. 

     

     3. Sulit menerima kritik 

    Rekan kerja atau pasangan borderline personality disorder 

    Seseorang dengan egoisme tinggi dikenal suka mendebat dan mengkritik orang lain, tetapi tidak terima jika diperlakukan serupa. 

    Orang dengan sifat ini meyakini bahwa kritikan dari orang lain hanya dilakukan untuk menjatuhkannya. 

    Inilah mengapa ia enggan menghadapi kritikan dan memilih berbalik menyalahkan. 

     4. Takut gagal atau merasa superior

    Egoisme yang tinggi biasanya membuat seseorang memilih untuk bertahan di zona nyaman karena takut gagal akan hal baru. 

    Pasalnya, di zona nyaman ini ia bisa dengan bebas mendahulukan keinginannya. 

    Sementara itu, di dunia yang baru ia merasa bahwa seseorang mungkin terus menghakimi segala tingkah lakunya. 

    5. Sulit meminta maaf 

    Seseorang yang egois tidak pernah merasa bersalah atas tindakan yang dilakukannya. 

    Inilah alasan mengapa mereka sangat sulit meminta maaf. 

    Tak hanya meminta, orang dengan sifat ini juga sulit menerima maaf. 

    Jika orang lain bersalah, ia bisa menyimpan dendam sampai orang tersebut meminta maaf dengan cara yang diinginkannya. 

    Bahkan menegor atau memarahi dengan membabi buta karena cenderung ego utamanya 

     6. Tidak sabar 

    Egoisme membuat seseorang berpikir bahwa dirinya lebih cerdas dalam berbagai hal. Alhasil !

    Ketika melihat seseorang sedikit lebih lambat darinya, ia akan merasa kesal. 

    Tak hanya itu, sifat ini juga membuat mereka tidak sabar ketika harus berperan sebagai pendengar. 


    7. Tidak mau berbagi 

    Ketika mengetahui tentang sesuatu, seseorang yang egois biasanya enggan untuk berbagi. 

    • Kecuali makanan  atau sesuatu yang bisa merendahkan orang lain (bisa-bisanya memberikan makanan sisa atau jumlah tak sesuai dengan norma kepatutan), terkadang dilempar duh Anda kasih binatang atau orang sih. 
    • Kekerasan perbal tak terasa hadir karena orang lain ada disekelilingnya hanya keterpaksaan atau butuh. 

    Sebab dengan begitu, mereka akan menganggap dirinya lebih dari orang lain.  

    Untuk orang yang paham rezeki dari Tuhan tak perlu menonjol tapi DIAM sumber inspirasi berlimpah dari Sang Khalik.  

    Komentar

    Tampilkan

    News

    INFORMASI PUBLIK

    +